Menu

Kereta terakhir , pertemuan ku terakhir juga

Bintang yang tak pernah bersinar

Aku tau aku tak akan pernah bisa menjadi Sirius, Arcturus, ataupun Vega

Aku juga tau aku tak semenarik Algoi, Polaris dan Mira

Aku tak pernah menjadi bintang karena aku tak pernah bersinar

Lalu mengapa aku harus berada digugusan rasi bintang, bila aku bukan bintang

Orang-orang tak pernah menyebutku bintang karena aku tak bercahaya

Lalu mengapa aku harus disini, merasakan silau bintang yang saling berpendar

Memancarkan sinar terang mereka

Sungguh aku tak pernah ingin menjadi bintang bila rasanya terlalu menyakitkan.

cewek menunggu

menunggu kereta terakhir

“Tuuuuuuuut…tuuuuuut…” suara kedatangan kereta menggema keseluruh isi stasiun, menandakan kereta telah tiba, memperpelan lajunya hingga akhirnya berhenti. Satu persatu penumpang turun membawa barang bawaan mereka masing-masing, hingga seluruh isi kereta keluar dan tak tersisa, Nera meremas jari tangannya dengan gugup.

“Dia pasti datang dia pasti datang.” Nera mengulanginya bagai sebuah mantra yang akan membuatnya tenang, hingga malam menjelang dan stasiun menjadi lenggang, wajah yang dicari tak pernah muncul. Nera menundukan kepalanya dengan lesu meninggalkan stasiun, ini tahun ketiga semenjak kepergianya, dan dia tak pernah sekalipun muncul. Dinyalakan motor maticnya dan pergi meninggalkan pelataran parkir stasiun, dengan perasaan hancur, Nera menyusuri jalanan kota yang gelap bermandikan cahaya kelap kelip lampu penerangan jalan. Pikirannya melintas kembali ke masa 3 tahun silam di stasiun yang baru saja ditinggalkan.

‘Levi.’ itu namanya, cinta pertama dan seluruh hidup Nera, Nera tak pernah memandang orang lain selain dia, tak penah mencintai orang lain sebesar cinta Nera padanya. Dia adalah pusat dari seluruh hidup Nera. Dimana dia berada disitulah Nera berada, mereka adalah pasangan paling serasi dan kompak disekolah. Mereka selalu berangkat dan pulang bersama sama, Nera benar-benar sungguh bahagia di otaknya hanya ada ‘Levi, Levi dan Levi'”

Nera bukan gadis bodoh disekolah bisa dibilang cukup cerdas, tapi Nera rela menjadi bodoh asalkan Levi selalu berada disisinya. Ini tahun ke dua hubungan mereka,tapi sepanjang kisah cinta yang membahagiakan ini baru kali ini Nera merasa begitu sakit, sedih, dan benar-benar ketakutan, sebentar lagi UAN dan untuk pertama kalinya mereka akan terpisah karena Levi telah diterima di Universitas ternama di Jakarta. Sementara Nera tetap disini, orang tuanya tak punya cukup uang untuk membiayayainya kuliah di Jakarta, Nera seperti berhenti bernafas membayangkan Levi akan pergi meninggalkannya sendirian disini.

Seminggu sebelum perpisahan itu Nera tidak henti-hentinya menangis, Levi selalu menenangkannya dan mengatakan dia pasti akan segera kembali, dan setiap liburan semester dia akan pulang mengunjungi Nera. Hari yang paling menakutkan itu akhirnya datang juga, Nera seperti tak punya pijakan untuk berdiri. Baginya dunia telah runtuh, Nera tidak bisa hidup tanpa Levi, Nera mengantarkan kepergian Levi ke stasiun dengan mata yang membengkak, Levi tidak pernah melepaskan pegangan tangannya dan memeluk Nera erat.

“Nera sayang…please jangan menangis lagi,” Levi mengusap air mata Nera dengan lembut. “Aku janji setiap liburan semester aku akan mengunjungimu dan setiap tahun ditanggal hari jadi kita aku pasti akan pulang.” Levi merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda mengkilap sebuah kalung putih dengan liontin berbentuk setengah hati yang menggantung. Dengan lembut Levi memasangkan di leher Nera dan mencium keningnya lembut.

“Aku mencintaimu, dan percayalah janjiku padamu aku pasti akan pulang cintaku.” Levi membisikan kata-kata manis dan penuh kesunguhan itu ditelinga Nera. Levi melepaskan kecupannya dan perlahan-lahan berbalik pergi meninggalkan Nera. Lantai yang di pijak Nera sekarang mungkin sudah berubah menjadi lautan karena banjir air mata. Decitan dan pekikan dari suara rem yang diinjak secara mendadak membuyarkan lamunan Nera, ketika menyadari dia hampir menabrak pengendara didepannya ‘hampir saja’ bisiknya dalam hati, orang yang hampir ditabrak tadi mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kotor. Nera mengabaikan teriakan itu dan melanjutkan perjalanannya.

***

1 tahun kemudian…

Nera tetap datang ke stasiun yang sama yang selalu didatangi tiap tahun, tak ada yang berubah dari stasiun tua ini, sesuai dengan janji yang diucapkanya disini. Ini tahun ke 4 Nera menantikan kedatangannya, tapi Nera tak lagi segugup dulu, Nera sudah sangat siap kalau Levi tak akan datang lagi, meskipun Nera sangat berharap dia akan datang. Nera duduk termenung di bangku tempat mereka berpisah dulu, Nera mengenang kembali kencan terakhir mereka sebelum Levi pergi, seperti biasa Levi menjemputnya jam 7 malam, Nera mengenakan pakaian paling bagus yang dimilikinya, Nera tidak ingin mereka berdua melupakan malam ini.

Nera berkaca untuk terakhir kalinya, Nera memang tidak suka memakai make up tapi malam ini ia kusus menyapukan make up tipis diwajahnya dan memoles bibirnya dengan lipstick pink alami.Nera memang tidak cantik tapi juga tidak jelek, Nera hanya gadis biasa dinilai dari segi apapun, tinggi badannya rata-rata bahkan bisa dibilang sedikit pendek, bentuk tubuhku juga biasa saja tidak langsing tapi juga tidak gendut, wajahnya juga biasa saja, Nera memiliki wajah bulat dengan mata belok tapi penglihatannya tidak setajam bola mata yang dimiliki.

Nera sering tidak menemukan benda yang dicari, dan bagian wajahnya yang paling di benci adalah bentuk bibirnya yang sedikit aneh,tapi orang-orang sering memuji hidung mancungnya mungkin ini bagian wajahnya yang harus di syukuri. Sebaliknya Levi adalah cowok populer disekolah karena dia anak basket dan anggota OSIS kulitnya putih dan bercahaya Levi cukup tinggi dengan tinggi 180 cm, Levi cukup menjulang diatas Nera, matanya bulat indah dengan alis hitam nan tebal, hidungnya yang mancung dan bibir sexy yang menggoda menambah kesempurnaannya.

Levi memacu motornya menembus jalanan menuju pusat kota, mereka menghabiskan malam dengan mengobrol santai di cafe tempat biasa mereka berkencan,mereka membicarakan banyak hal. Hingga beberapa jam kemudian mereka meningalkan cafe menuju taman kota, memilih salah satu bangku kosong disudut taman. Nera tertawa cekikikan ketika Levi menceritakan hal-hal lucu dan konyol, Nera ingin menanyakan sesuatu yang dari dulu ingin ditanyakan pada Levi.

“Lev….banyak cewek-cewek cantik yang ngejar-ngejar kamu, bahkan banyak kakak kelas kita yang naksir kamu,tapi kenapa kamu milih aku?” Nera sangat ingin mendengar jawabannya.

“Hemmm…kenapa ya,” Levi pura-pura berpikir keras “aku bosan dengan gadis-gadis cantik yang selalu mengejarku, lagi pula aku tak pernah berkencan dengan gadis biasa sepertimu, aku ingin menularkan pesona dan aura positifku padamu hahahaha…” Levi terkekeh dengan jawabanya sementara Nera cemberut karena itu bukan jawaban yang diharapkan.

“Ih…nyebelin banget sich jadi orang, narsis, tau.” Nera mendengus kesal “Karena aku sangat mencintaimu, aku menyukai apapun yang ada pada dirimu.” jatung Nera tiba tiba berhenti berdetak mendengar jawaban manis itu.
Levi mendekatkan wajahnya ke wajah Nera dan mencium lembut bibirnya, Nera membuka bibirnya memberi ruang pada Levi untuk menjelajahi mulutnya dan menyesapnya lidahnya yang lihai membelai lidah Nera, ciuman mereka menjadi panas dan penuh gairah dan membuat Nera terengah-engah, mereka melanjutkan hasrat yang mengelora efek dari ciuman tadi di kamar kost Levi, ketika pintu sudah tertutup Levi menciumi Nera dengan liar dan ganas Nera mengerang merasakan nikmat yang tak tertahankan, Levi membuka pakaiannya satu persatu setelah itu membantu Nera membuka bajunya, ketika mereka sama-sama telanjang bulat Levi menuntun Nera keranjang dan membaringkannya di sana, tubuhnya yang berotot menindih Nera dan kembali menciumi seluruh tubuh Nera, cumbuan Levi membuat tubuh Nera seperti terbakar, Nera sudah sangat basah dan siap.
Levi lalu duduk bersimpuh di atas ranjang itu dan memangku kepalaku diatas pahanya. Levi kembali menjamah payudaraku, namun kali ini ia mengulurkan tangannya menyusupi bagian dada. Jari-jarinya menjalar pelan diatas payudaraku sambil mencari puting payudaraku. Aku merasa agak sesak karena aku masih memakai BH, namun itu tidak menghalangi jari-jari nakal Levi untuk mempermainkan dadaku.

“Aw!” aku merasakan puting payudaraku disentuh oleh jari Levi. Levi segera memencet putingku sehingga aku merasa seperti tersetrum oleh listrik di sekujur dadaku.

“Ahh..” desahku pelan saat Levi kembali meremas payudaraku.

Payudaraku digerakkan berputar pelan oleh jari Levi sambil sesekali memencet putingku. Aku semakin terhanyut saat Levi menyentil-nyentil puting payudaraku dengan kukunya yang agak panjang ataupun saat memencet puting susuku dengan kuku jempol dan jari telunjuknya. Saraf-saraf tubuhku kini semakin sensitif karena aku semakin terangsang dengan pijatan di payudaraku. Kakiku mulai menggeliat-geliat pelan dan aku bisa merasakan cairan cintaku kembali meluber dari vaginaku. Levi yang melihat pergerakan-pergerakan terangsang tubuhku, mengentikan aksinya. Kini ia kembali bergerak kearah selangkanganku. Ia lalu duduk dihadapan tubuhku yang masih terbaring

“Nah, Neva. Ayo buka pahamu. Yang lebar ya!” aku merentangkan kakiku selebar mungkin dihadapan Levi. Ia tersenyum melihat aku yang tidak menolak perintahnya lagi. Levi lalu mengamati selangkanganku. Bagaimana kewanitaanku yang masih basah oleh cairan cintaku. Levi mencolek vaginaku dan mencicipi cairan cintaku yang ada di jarinya. Levi kembali membenamkan jarinya dengan pelan di celah vaginaku, jarinya bergerak lembut seolah mencari sesuatu.

“Aww..” desahku pelan saat jari telunjuk Levi menyentuh klitorisku. Levi yang akhirnya menemukan apa yang dicarinya dalam liang vaginaku tampak kegirangan. Jarinya segera menyentil-nyentil klitorisku. Akibatnya, bisa ditebak, aku kembali melayang kelangit ketujuh. Aku merintih-rintih keenakan dihadapan muridku yang kini sedang memainkan gairah seksualku.

“Aahh.. ohh.. aww..” desahanku semakin keras dan akhirnya tubuhku kembali serasa akan meledak. Punggungku melengkung bagai busur dan kakiku kembali menegang, siap untuk menyambut orgasmeku untuk yang kedua kalinya. Namun, Levi yang tahu bahwa aku akan orgasme segera mencabut jarinya keluar dari liang vaginaku; otomatis, kenikmatan yang sebentar lagi akan kucapai lenyap seketika.

Aku sekarang bertingkah seolah-olah dia adalah suamiku yang sah. Aku agak terkesan karena Levi sudah tahu bagaimana menjalankan trik psikologis untuk mempengaruhiku agar menuruti permintaannya. Namun kuakui, permainan psikologis ini semakin membangkitkan gairahku dan aku amat menikmatinya!
“Nah, Neva. Boleh tidak kalau Levi memasukkan adik kecil ┬áke Vagina Neva?”

“Boleh sayang.. Neva kan Kekasihnyanya Levi..” selorohku. Aku sekarang sudah rela memberikan keperawananku untuk Levi. Levipun menarik tubuhku sehingga kewanitaanku terpampang jelas sekali dihadapan Levi.

“Ayo sayang. Neva mau orgasme lagi..” aku memohon pada Levi. Levi segera merespon dengan duduk dihadapan selangkanganku dan mengatur posisi tubuh kami sehingga penisnya sekarang berada di bibir kewanitaanku. Aku bisa merasakan penisnya yang kembali membesar seperti saat aku mengoralnya barusan menyentuh celah vaginaku. Aku menghela nafas, menyiapkan diriku untuk menerima kenyataan bahwa keperawananku akan direnggut sesaat lagi. Aku berusaha mengatur nafasku yang memburu untuk mengusir rasa takut dan cemas akibat degup jantungku yang amat kencang.

“Bagaimana, Neva? Sudah siap?” aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Levi akan kesiapanku.

“Levi.. yang pelan ya? Jangan kasar..” pintaku kembali.

Aku tidak ingin Levi memperawaniku seperti sebuah pemerkosaan, yang kuinginkan hanya agar aku bisa diperlakukan lebih lembut. Maklumlah, ini juga merupakan pengalaman pertamaku yang pasti akan berkesan seumur hidupku. Untunglah, Levi tampaknya mengerti akan perasaanku. Ia mengangguk dan sorot matanya seolah menenangkanku. Levi mulai mendorong pinggangnya ke depan. Sesaat penisnya berhasil membelah bibir vaginaku, namun mungkin karena vaginaku licin akibat cairan cintaku, penis Levi malah meleset keluar dari celah vaginaku. Mengakibatkan timbulnya suara tertahan dari mulutku. Levi kembali berusaha, namun tampaknya agak susah baginya untuk memasukkan penisnya kedalam vaginaku karena diameter penisnya juga cukup lebar . Akhirnya ia meraih batang penisnya dan mengarahkannya tepat dihadapan celah bibir kewanitaanku. Tangannya masih kuat mencengkeram penisnya saat ia sekali lagi menggerakkan pantatnya ke depan dan..

“AAGH!!!” aku membelalak dan menjerit keras saat merasakan rasa ngilu dan perih yang amat hebat melanda vaginaku. Akhirnya selaput daraku robek dan keperawananku sekarang lenyap sudah terenggut oleh Levi. Aku bisa merasakan penis Levi yang kini terjepit di vaginaku dan ujung penisnya didalam lubang pipisku. Levi kembali memajukan pinggulnya dengan pelan, mengakibatkan rasa sakit itu semakin mendera vaginaku.

“Levi, Levi!! Sakit! Sebentar!! Aduuh!!” aku kembali meminta dengan panik pada Levi. Air mataku meleleh akibat rasa perih itu.

“Sebentar, Neva. Tenang ya, sebentar lagi..” jawab Levi sambil mendorong pinggangnya dengan pelan.

Penisnya semakin dalam memasuki vaginaku diiringi dengan jeritan piluku yang tersiksa oleh rasa sakit itu. Kepalaku terbanting kekiri-kanan menahan rasa sakit, seolah menolak penetrasi Levi kedalam lubang vaginaku.

“Ohh..” Levi melenguh dan menghentikan dorongannya. Aku bisa merasakan sepasang buah zakarnya bergelantungan di bongkahan pantatku dan paha kami yang sekarang saling bersentuhan.

“Hhh..” aku mengambil nafas sejenak merasakan rasa sesak di vaginaku akibat besarnya penis Levi didalam lubang pipisku. Aku akhirnya sadar kalau sekarang ini seluruh penis Levi sudah terbenam sepenuhnya didalam kewanitaanku. Rambut-rambut kemaluannya yang baru tumbuh juga menggelitik selangkanganku. Untuk beberapa saat, kami terdiam dalam posisi itu. Levi memberiku waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaanku.

“Neva..” panggil Levi pelan.

“Ya?”

“Hangat sekali rasanya didalam. Kamu lembut sekali, Neva..” pujinya. Aku tidak bisa merespon jelas karena rasa perih yang menyiksa ini, namun bisa kulihat kalau Levi tampak mencemaskan keadaanku.

“Sakit ya?” tanyanya penuh perhatian

“I, iya, sakit sekali..” jawabku pelan.

“Sekarang kita sudah bersatu lho, Neva. Aku dan kamu sekarang jadi satu..” Aku mengangguk membenarkan pernyataan Levi. Memang, sekarang tubuh kami sudah bersatu karena kemaluan kami masing-masing telah menyatukan tubuh kami.

“Levi.. sakiit..” protesku pada Levi. Levi terdiam, ia hanya mengusap air mataku.

“Sabar ya, Neva? Sebentar lagi pasti enak kok!”

Levi lalu menarik penisnya sedikit vaginaku dan dengan pelan dilesakkannya kembali kedalam liang vaginaku. Rasa pedih kembali menyengat vaginaku, namun Levi selalu berusaha menenangkanku. Aku merasa tampaknya Levi juga tahu bagaimana sakitnya saat seorang gadis diperawani untuk pertama kalinya karena ia selalu berusaha memompa penisnya selembut mungkin untuk mengurangi rasa sakitku.
Lama kelamaan, muncul rasa nikmat dari vaginaku akibat gerakan penis Levi. Walaupun masih bercampur dengan rasa perih, aku bisa merasakan bahwa sensasi baru ini berbeda dari saat vaginaku dioral dan dipermainkan oleh jari Levi. Sensasi ini lebih menyentuh sekujur syarafku. Levi kembali membelai pahaku sambil menjilatinya pelan sehingga gairah seksualku kembali bangkit perlahan. Rasa perih itu semakin hilang dan digantikan dengan sensasi baru di tubuhku. Rasa geli, sakit dan sesak yang melanda vaginaku memberikan sensasi tersendiri yang mengasyikkan. Levi yang melihat bahwa aku sudah terbiasa akan pergerakannya mulai leluasa mengatur gerakannya. Sekarang penisnya ditarik keluar hingga hanya tersisa pangkal penisnya saja dalam vaginaku otomatis bibir vaginaku ikut tertarik keluar. Tiba-tiba, Levi mendorong pantatnya mendadak dengan cepat sehingga penisnya kembali menghunjam liang vaginaku dengan keras.

“Hyahh..” jeritku kaget, namun sekarang rasanya tidak lagi perih seperti tadi. Levi mulai menggerakkan penisnya dengan tempo yang lebih cepat, membuatku akhirnya melenguh-lenguh nikmat merasakan sensasi di vaginaku.

“Oohh..ahhh…aahh..aakhh..” aku mendesah-desah keenakan saat penis Levi menghunjam vaginaku.

Sesekali Levi berhenti menggerakkan pinggangnya saat penisnya tertanam penuh dalam vaginaku dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga penisnya seolah mengaduk-aduk isi liang vaginaku, membuatku semakin melayang diatas awan kenikmatan seksual. Semakin lama, kurasakan tempo goyangan penis Levi semakin cepat keluar-masuk vaginaku dan menggesek klitorisku saat memasuki vaginaku. Tubuhku juga berguncang mengikuti irama pompaan penis Levi seiring dengan desahan-desahan erotis dari bibirku. Malah, saat Levi menghentikan gerakan penisnya, secara otomatis aku menurunkan pinggulku menjemput penisnya, seolah tidak rela melepaskan penisnya itu. Levi terlihat puas melihatku yang sekarang sudah berhasil ditaklukkan olehnya. Tidak terasa sudah sekitar 10 menit sejak penis Levi memasuki vaginaku pertama kalinya. Levi masih dengan giat terus menggerakkan penisnya menjelajahi vaginaku. Sementara aku sendiri sudah kewalahan menerima serangan kenikmatan di vaginaku, orgasmeku sudah siap meledak kapan saja.
“OH! AAKHHH..!!!” akhirnya aku menjerit keras dan tubuhku terbanting-banting saat aku merasakan gelombang kenikmatan yang melanda seluruh simpul syarafku, mengiringi ledakan orgasmeku untuk kedua kalinya.

Rasa perih dan sedikit sakit karena ini adalah pengalaman pertamanya tergantikan rasa nikmat yang membuncah, suara erangan dan lenguhan mengisi udara disekitar mereka, Nera tau ini salah, tapi ini mungkin dosa terindah yang pernah dilakukan, mungkin ini juga yang membuat hawa tergoda makan buah khuldi sehingga terusir dari indahnya surga…begitulah kencan terakhir mereka begitu manis dan indah.

Sebuah pengumuman dari pengeras suara membuyarkan lamunannya yang memberitahukan kereta yang akan datang adalah kereta terakhir dari Jakarta, ketika kereta tiba Nera kembali menyaksikan satu persatu penumpang turun dan lagi-lagi wajah yang dicari tak muncul, Nera masih duduk terdiam sampai disadari stasiun menjadi lengang dan langit sore berganti malam. Orang-orang mungkin akan berkata kenapa kau tidak menghubunginya bodoh, atau kenapa kau tidak menyusulnya saja ke Jakarta, Jakarta bukan planet lain yang sulit dijangkau manusia, kau seperti seorang nenek tua pikun yang hanya bisa menunggu di stasiun, Nera bukan tidak pernah berusaha.

Enam bulan setelah kepergian Levi komunikasi mereka masih sangat lancar Levi selalu menelpon Nera setiap hari, saling kirim sms atau chat di jejaring sosial. Setelah 8 bulan berlalu Levi mulai jarang menghubungi Nera, ketika Nera menanyakan alasannya Levi menjawab sedang sibuk dengan kuliahnya yang sangat padat. Sampai dibulan ke 10 kepergiannya Levi tak pernah menghubungi Nera lagi, bahkan akun jejaring sosialnya ditutup. Setelah satu tahun berlalu sesuai janji yang diucapkan Levi, Nera percaya kalau dia akan datang di hari jadi mereka tapi kenyatanya Levi tak pernah muncul.

***

Ini sudah kelima kalinya Nera meningalkan stasiun dengan perasaan hancur, ‘Levi…dimana kamu?’ bisiknya lirih mengembuskan nafas sesak di dadanya. Dan disinilah Nera berakhir disebuah resto fast food bukan sebagai pengunjung tapi sebagai pelayan resto itu. Dulu Nera terlalu sibuk dengan Levi hingga tidak memikirkan masa depannya sendiri, Nera hanya berpikir dengan bersama Levi, Nera akan hidup bahagia, Nera terlalu naif berpikir kalau dia akan menikah dengan Levi dan dengan menjadi istri Levi, Nera tidak perlu bekerja karena Levi yang akan bekerja, Nera cukup tinggal dirumah menjadi istri yang baik dan ibu yang baik bagi anak-anak mereka.Nera tersenyum getir membayangkanya.

“Maaf…permisi,” sebuah suara mengintrupsinya “selamat datang…anda mau pesan apa?” Nera bertanya ramah kepada pengunjung cantik didepannya ini. ‘wanita yang cantik’ dia berbisik dalam hati, kulitnya putih bersih, berwajah oval dengan mata kecil tapi bulat, hidungnya mancung dan runcing, bibir tipisnya dipoles lipstick warna merah, rambut hitam lurusnya dibiarkan tergerai bebas penampilannya makin sempurna dengan tubuh langsing dan tinggi semampai yang dimiliki. Dia mengunakan gaun merah selutut yang sangat pas dengan bentuk tubuhnya.

“Dua burger satu lengkap dan satunya lagi tanpa tomat dan bawang dan dua lemon tea.” Nera tersentak dengan menu yang dipesan, Nera hanya kenal satu orang yang akan makan burger tanpa tomat dan bawang dan itu orang yang ditunggu selama ini.

“Oke…pesanan akan datang dalam 10 menit, ada yang lain?” Nera mencatat menu yang pesan dengan cermat, “Tidak, terima kasih.” Nera lalu berbalik menyiapkan menu yang dipesan gadis bergaun merah itu.Dalam 10 menit pesanan telah siap, ketika langkah Nera semakin dekat jantungnya berdetak semakin keras, menyadari gadis bergaun merah tak lagi duduk sendiri seorang pria duduk didepannya dan memungungi Nera, Nera mencengkram baki dengan kuat hingga buku jarinya memutih agar baki itu tidak terjatuh, meskipun dari belakang Nera bisa mengenalinya, dia orang yang ditunggunya selama ini ‘Leviku’ bisiknya dalam hati. Kakinya seketika lemas dan tanggannya gemetaran baki yang dipegang hampir terlepas dari gengamannya, jantungnya seperti di tebas samurai dan seketika itu juga berhenti berdetak dan hatinya seperti dicincang kecil-kecil. Nera seperti beku dan mati rasa, ketika sampai di meja mereka.

“Le…Lev…Levi.” air matanya hampir pecah tapi dia menahan sekuat tenaga, hingga matanya berkaca-kaca. Levi mendongak dan sesaat terdiam mematung, beberapa detik kemudian dia berdiri dan memeluk erat Nera, Nera tak membalas pelukan Levi tangan dan seluruh tubuhnya telah membeku. “Nera…..apa benar ini kau, oh Tuhan Nera..” pelukan Levi semakin erat “Kamu apa kabar, aku benar-benar sangat merindukanmu.” lama Levi memeluk Nera dan baru melapaskan pelukannya.

“Ehem…ehem…ada yang mau menjelaskan apa yang sedang terjadi?” gadis bergaun merah mengangkat bahu dengan tatapan bingung.

“Sayang…dia Nera gadis yang selalu kuceritakan padamu dulu.” Levi mengenalkan mereka berdua, hati Nera seperti disiram air keras hingga tak berbentuk lagi mendengar Levi mengucapkan kata sayang pada gadis ini. Gadis bergaun merah mengulurkan tangannya dengan senyum lebar.

“Alexa, tunangan Levi.” dia berkata dengan senyum penuh kebanggaan, Nera mengulurkan tangan yang kaku “Ne…Nera.” ia menjawab dengan terbata-bata, ‘bumi tolong telan aku bulat bulat aku sungguh tak ingin berda disini’ ratapnya perih, bagi Nera dunia sudah kiamat sejak beberapa menit yang lalu.

“Nera sebenarnya aku ingin bercerita banyak denganmu, tapi aku benar-benar minta maaf nanti sore kami harus segera kembali, aku benar-benar menyesal tidak sempat menemuimu, aku pulang hanya untuk bertemu orang tuaku untuk memberitahu rencana pernikahan kami bulan depan.”

Kata-kata itu seperti peluru yang ditembakkan dengan membabi buta keseluruh tubuhnya rasanya begitu sakit.

“Karena kau teman baik Levi, aku sangat berharap kau akan datang, kami akan sangat bahagia melihat kehadiranmu.” gadis bergaun merah menambahkan, satu lagi peluru ditembakkan tepat ditengkorak kepalanya. Nera memohon agar semua ini berakhir, dan dia berharap ini hanya sebuah mimpi buruk, tapi ternyata ia salah besar ini nyata, benar-benar nyata.

‘Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, tolong ambil nyawaku sekarang juga, kupikir aku tidak membutuhkanya lagi’ bisiknya selembut udara.